Jumat , Oktober 30 2020
Home / Nasional / TFCA Sumatera, Upaya Konservasi Hutan Sumatera Dengan Sistematis

TFCA Sumatera, Upaya Konservasi Hutan Sumatera Dengan Sistematis

BP, Medan — Salah satu upaya untuk menjaga kesejahteran masyarakat di dalam dan sekitar hutan adalah dengan menyediakan alternatif usaha ekonomi bagi mereka. Sumber-sumber ekonomi yang selama ini telah ada—misalnya, perkebunan kopi, cokelat, karet, cengkeh, pala, dan lain sebagainya—perlu ditingkatkan lagi efektivitasnya dan diarahkan pada kelestarian hutan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan kebijakan yang ada, seperti Perhutanan Sosial dan sebagainya.

“Dengan cara itu, mereka dapat memperoleh kehidupan yang layak, dan tidak berorientasi pada perambahan kawasan hutan untuk mendapatkan lahan garapan lagi,” ujar Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia M.S. Sembiring, di Jakarta, Kamis (16/11/2017).

Sebagai bagian dari upaya menjawab permasalahan konservasi dewasa ini, khususnya di Sumatera, KEHATI melalui program Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA Sumatera) telah melakukan aksi konservasi hutan secara sistematis di tingkat tapak di Sumatera, yang hasilnya dipresentasikan dalam kegiatan ekspo di Lapangan Merdeka, Medan, pada 20-22 November 2017.

Direktur Program TFCA-Sumatera, Yayasan KEHATI, Samedi, mengungkapkan, ekspo yang bertemakan “Aksi Konservasi Hutan Tropis Sumatera” (AKSIS) 2017 ini diikuti seluruh mitra TFCA Sumatera-KEHATI dari Lampung hingga Aceh. Dalam ekspo tersebut mereka diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, saling menginspirasi, serta memberikan saran, sehingga para mitra mampu meningkatkan kinerjanya.

Selain itu mereka akan dipertemukan dengan pelaku bisnis dan pakar-pakar pemasaran untuk memperkuat kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat menjadi bisnis konservasi yang profesional dan berkelanjutan.

Samedi juga mengungkapkan, sejak dimulai pada tahun 2010 hingga kini, program TFCA Sumatera telah mengintervensi 12 lanskap konservasi prioritas mulai dari Aceh hingga Lampung. Tidak kurang dari 54 konsorsium mitra yang terdiri dari hampir 100 lembaga anggota (LSM / Perguruan Tinggi) telah terlibat di dalamnya. Selama itu, ada beragam inisiatif, inovasi, maupun produk yang dihasilkan mitra dan penerima manfaat (masyarakat).

“Oleh karena itu, agar capaian-capaian tersebut dapat diperkenalkan kepada khalayak luas, membangun inspirasi satu sama lain, sekaligus promosi produk dan jasa kepada pasar, kegiatan ekspo AKSIS 2017 ini kami selenggarakan sebagai show-window dari aksi nyata TFCA Sumatera-KEHATI di lapangan,” kata Samedi.

Aksi dalam bentuk ekspo ini juga diharapkan dapat menjadi ajang untuk membangun jejaring pasar baik konvensional maupun daring bagi para pelaku usaha kecil dan para mitra TFCA Sumatera-KEHATI, sekaligus terbangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah pusat dan daerah.

Selain pameran produk, kata Samedi, ekspo ini juga diisi dengan beragam acara menarik dan bermanfaat, di antaranya: dialog nasional yang menghadirkan Menteri LHK sebagai pembicara utama, Menteri Pariwisata yang akan memberikan arahan mengenai pariwisata berkelanjutan, talkshow, seminar, temu bisnis, peluncuran buku, penanaman pohon serentak di Sumatera Utara dan Lampung, pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan jasa lingkungan, ngopi bersama, menggalang 10.000 tanda tangan untuk dukungan gerakan konservasi hutan, lomba foto booth, lomba foto jurnalistik lingkungan dan pameran foto, serta lomba menggambar dan mewarnai.

“Ekspo ini menjadi penting karena dapat dimanfaatkan untuk berbagi informasi baik kegagalan maupun keberhasilan program, berfungsi sebagai wadah untuk mewujudkan sinergi di antara para pelaku konservasi kehutanan di Indonesia, khususnya di Sumatera, serta mempertemukan pelaku bisnis dengan masyarakat,” tandas Samedi.

Lebih jauh, Samedi mengatakan, keterampilan masyarakat di dalam dan sekitar hutan harus ditingkatkan untuk menjadi masyarakat mandiri dan sejahtera sehingga dapat hidup berdampingan dengan kelestarian hutan. Hal tersebut selaras dengan makna holistik konservasi hutan, yang sesungguhnya tak hanya mencakup kegiatan pengawetan, perlindungan, pemulihan dan peningkatan kualitas alam, tetapi juga pemanfaatannya secara berkelanjutan.

TFCA Sumatera merupakan sebuah skema pengalihan utang untuk lingkungan (debt-for-nature-swap) yang merupakan implementasi dari perjanjian antara Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Indonesia dengan tujuan melestarikan kawasan hutan tropis di Sumatera yang tekanan terhadap konservasinya sangat tinggi.

(RWN)

The following two tabs change content below.

admin

About admin

Check Also

Pejuang Hak Agraria Itu Telah Berpulang

BP, Batang — Telah meninggal dunia pada Senin sore (25 Mei 2020) di Rumah Sakit …