Jumat , Oktober 30 2020
Home / Nasional / Potensi Pertanian Organik di Tanah Vulkanik Kepulauan Sangihe

Potensi Pertanian Organik di Tanah Vulkanik Kepulauan Sangihe

BP, Sangihe — Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai kabupaten organik. Kabupaten yang merupakan salah satu kepulauan terluar di Indonesia tersebut juga berpotensi tumbuh sebagai wilayah mandiri pangan.

Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia, Puji Sumedi, Jumat (17/11/2017), mengungkapkan, sebagai wilayah yang dihuni gunung-gunung berapi, Kepulauan Sangihe memiliki tanah yang subur sebagai dampak dari debu letusan vulkanik.

“Kesuburan tanah tersebut memungkinkan wilayah ini tumbuh sebagai salah satu lumbung bagi sejumlah komoditas perkebunan nasional, terutama pala, kelapa, dan sagu,” kata Puji.
Tidak hanya menyuburkan, debu vulkanik dari gunung berapi di Sangihe juga membuat para petani tak lagi harus menggunakan pupuk kimia buatan pabrik untuk menumbuhkan dan menyuburkan berbagai tanaman pertanian maupun perkebunan. Dengan tanah yang kaya akan mineral serta hara, seluruh proses produksi pertanian dan perkebunan di Sangihe sudah mencukupi syarat organik.

Deklarasi sebagai kabupaten organik tersebut dilaksanakan di pendapa kabupaten oleh Bupati Sangihe Jabes Gaghana, Kamis (16/11). Deklarasi tersebut dilaksanakan bersama sejumlah perwakilan lembaga yang selama ini turut mengupayakan program organik di kabupaten ini, yaitu: Yayasan KEHATI, Burung Indonesia, YAPEKA, SAMPIRI, dan Ford Foundation.
Jabes berharap, kabupaten organik dapat terwujud secara penuh dalam dua tahun ke depan. Oleh karena itu, dia berharap KEHATI terus memberikan dukungan kepada petani di Kabupaten Sangihe guna mewujudkan status sebagai kabupaten organik.
Upaya Sangihe untuk tumbuh sebagai kabupaten organik sudah diretas sejak lama. Sebagai bagian dari upaya tersebut, sejak tahun 2009, pemkab wilayah ini menjalin kerja sama dengan KEHATI, dengan menempatkan pertanian organik sebagai perhatian utama. Kerja sama tersebut diarahkan pada upaya mendorong produk-produk pertanian dan perkebunan tersebut ke pasar ekspor, termasuk ke ceruk pasar khusus.

“Dengan mengembangkan pertanian organik, komoditas pertanian di Sangihe memiliki potensi dan peluang besar untuk masuk ke pasar internasional dan ceruk pasar khusus, yaitu pasar produk organik,” kata Puji.
Upaya tersebut diawali dengan memfasilitasi sekitar 300 anggota masyarakat untuk berhimpun dalam organisasi berbentuk koperasi. Mereka tergabung dalam kelompok swadaya masyarakat Asosiasi Petani Organik (APO)-Komunitas Masyarakat Sangihe Mandiri (Komasa).

(RWN)

The following two tabs change content below.

admin

About admin

Check Also

Pejuang Hak Agraria Itu Telah Berpulang

BP, Batang — Telah meninggal dunia pada Senin sore (25 Mei 2020) di Rumah Sakit …