BP, Amerika Serikat — Lewat akun twitter resminya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih mengungkit soal klaim pemilih ilegal dalam pemilu November tahun lalu. Trump meyakini sekitar 2,86 juta orang memilih secara ilegal dalam Pemilu AS November 2016 lalu. Ia mengklaim diri yakin memenangkan suara pemilih (popular vote) dari Hillary Clinton jika tak ada pemilih ilegal. Trump memenangkan suara elektoral dengan perbedaan jumlah yang besar dengan Clinton.
“Sebagai tambahan soal memenangkan electoral college. Saya menang suara populer jika Anda mengurangi jutaan orang yang memilih secara ilegal,” kata Trump dalam cicitannya di akun resmi Trump pada akhir November.
Dilansir BBC, Rabu (25/1/2017), Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer mengonfirmasi Trump tetap memikirkan suara ilegal tersebut. “Dia (Trump) percaya hal itu berdasarkan penelitian dan bukti yang diberikan kepadanya,” kata Spicer.
Namun, saat ditekan oleh wartawan, Spicer tidak menyodorkan bukti yang mendukung klaim tersebut. Sementara menurut Reality Check, tidak ada bukti yang mendukung klaim Trump soal sedikitnya 2,86 juta orang memilih secara ilegal.
Trump mengutarakan klaimnya kembali pada Senin bahwa antara tiga sampai lima juta imigran tak terdokumentasi memilih untuk Hillary Clinton.
Sementara di suara populer Trump kalah jauh, sekitar 2,86 juta suara dibanding Clinton. Trump berpegang pada penelitian pada 2014 yang menemukan bukti non-penduduk AS memang menggunakan hak pilih sehingga bisa mempengaruhi hasil. Studi yang dipublikasikan di Electoral Studies itu pun mendapat kritik dari pakar politik yang menuduh ada kesalahan data. Trump juga menyebut laporan Pew Center soal 1,8 juta penduduk AS yang sudah meninggal masih terdaftar sebagai pemilih. (RWN)
admin
Latest posts by admin (see all)
- Ramadan Yang Sibuk Buat SAPTA PALA - Maret 27, 2025
- Peneliti BRIN Amati Keanekaragaman Burung Di Bukit Batu Riau - Maret 23, 2025
- BPDB Jakarta Perkuat Kemitraan Penanggulangan Bencana di Wilayah Aglomerasi - Maret 13, 2025