Rabu , Oktober 20 2021
Home / Jabodetabek / Politisasi CFD Dikecam

Politisasi CFD Dikecam

BP_Jakarta——-Setelah menerima keluhan dari masyarakat dengan adanya gangguan dari acara Kita Indonesia di Car Free Day (CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman pada Ahad 4 Desember 2016 lalu, para inisiator CFD menyampaikan protes. Mereka menyesalkan karena CFD telah dijadikan arena politik praktis dan terjadi banyak pelanggaran. Dalam pernyataannya inisiator CFD juga menyesalkan tidak adanya tindakan dari aparat pemerintahan dan kepolisian. “Kami sesalkan bahwa pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) telah direbut dari posisi HBKB sebagai ruang publik yang netral dari berbagai kepentingan politik. Kami juga menyesalkan tiadanya tindakan oleh pimpinan dan aparat Pemprov DKI dan Polda Metro Jaya untuk menertibkan kegiatan yang melanggar ketentuan pelaksanaan HBKB tersebut.” Kata Ahmad Safrudin, inisiator HBKB di kantor CFD Indonesia, Gedung Sarinah, Jakarta Pusat (5/12/2016).

“Kami meminta pihak penyelenggara Kita Indonesia untuk meminta maaf atas pelanggaran yang telah dilakukan. Kedua kami menuntut Pemerintah Propinsi DKI Jakarta untuk memblacklist para pihak yang telah membajak Car Free Day pada 4 Desember 2016 lalu. Jadi tidak diikutsertakan lagi untuk kegiatan-kegiatan Car Free Day di masa-masa yang akan datang.” Tegas Mas Puput panggilan akrab Ahmad Safrudin. Mas Puput menjelaskan bahwa sejarah CFD terwujud karena perjuangan gerakan masyarakat hingga kemudian diterima dan dikeluarkan regulasinya oleh pemerintah. “CFD ada karena civil society”, jelas Mas Puput.

Salah seorang inisiator CFD, Alfred Sitorus mengatakan, ” Apa spesialnya acara Kita Indonesia? Sehingga semua regulasi dilanggar. Jangan sekali-kali melanggar regulasi yang sudah ada.”

Alfred Sitorus menyuarakan usul pelarangan semua kegiatan di CFD yang tidak berkaitan dengan kegiatan masyarakat di CFD menjelang Pilkada ini. “Silahkan saja masyarakat datang ke sana tapi tak ada satu pun kegiatan kegiatan diadakan di sana sampai Februari nanti. Karena CFD ini menjadi sasaran empuk bagi semua kelompok yang mau bertarung. Kewenangan itu bisa dilakukan oleh Plt Gubernur, karena diatur di Pergub,” jelas Alfred.

Para penggagas HBKB juga menyesalkan pernyataan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh yang menyebut nilai persatuan dalam aksi Kita Indonesia di Bundaran Hotel Indonesia, Ahad (4/12/2016) lebih penting ketimbang daripada CFD.

“Ada pidato dari Surya Paloh yang menyinggung inisator CFD. Beliau itu memperkecil CFD ini. Arti CFD dianggap tidak punya peran dalam membangun persatuan. Itu membuat kita tersinggung. Surya Paloh tidak tahu makna CFD. Di CFD lah padahal terjalin perwujudan kebhinekaan,” tandas Karya Ersada.
“Car Free Day adalah sejarah.
CFD adalah monumen kekuatan masyarakat sipil. Kok tega ia porakporandakan untuk kepentingan sesaat saja. Jadi sangat naif ia mengecilkan arti CFD.” Tegas Karya Ersada.

‎Oleh karena itu para inisiator CFD menuntut Surya Paloh meminta maaf terhadap pihaknya.
“Surya Paloh mohon cabut kata-katanya dan meminta maaf kepada inisiator CFD. Jangan nyampah dan jangan nyampah politik (di CFD). Itu pelanggaran luar biasa,” tandasnya.

“Kami mengadakan perlawanan terhadap mereka yang memporak-porandakan CFD kemarin,” tukas Karya.

Di sisi lain, Alfred mengungkap bahwa para pelaksana Kita Indonesia sebelumnya sudah diingatkan agar tidak menjadikan CFD sebagai ajang politik praktis. “Namun hanya partai berwarna merah saja yang menarik diri. Kita patut apresiasi partai yang mau tau dan tau diri,” jelas Alfred. Diketahui pada aksi Indonesia Kita bertebaran atribut Partai Golkar, Partai Hanura, Partai NasDem dan massa Djan Faridz yang mengklaim dirinya sebagai Ketua Umum PPP. Tetapi di aksi Kita Indonesia tidak ada atribut PDIP yang juga merupakan parpol pendukung Ahok pada Pilgub 2017. (RWN).

The following two tabs change content below.

About admin

Check Also

KRI Nanggala-402 Dinyatakan Subsunk

BP, Bali — Pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 telah dinaikkan fasenya, dari fase submiss (hilang) …