Minggu , Januari 23 2022
Home / Jurnal Masyarakat / Monitoring Keanekaragaman Hayati Taman Kridaloka, Senayan-Jakarta Pusat

Monitoring Keanekaragaman Hayati Taman Kridaloka, Senayan-Jakarta Pusat

JAKARTA – Luasan ruang terbuka hijau di Jakarta masih jauh dari yang disyaratkan oleh Undang-Undang. Oleh karena itu, perlu terus digali potensinya agar muncul kesadaran pemerintah dan masyarakat untuk terus menambah luasannya.

Saat ini Provinsi DKI Jakarta setidaknya hanya memiliki kurang lebih 9% ruang terbuka hijau dari total luas wilayahnya. Padahal Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang jelas menunjukkan bahwa sebuah kota harus memiliki ruang terbuka hijau sebanyak 30% dari total luas wilayahnya. Luasan sebesar 30% dari total wilayah itu adalah syarat minimum untuk menjamin keseimbangan ekosistem sebuah kota. Termasuk di dalamnya keseimbangan sistem hidrologi yang berkaitan erat dengan banjir dan peningkatan ketersediaan udara bersih. Melihat kondisi tersebut, Jakarta sebenarnya jauh berada pada posisi ideal.

Oleh karena itu, Transformasi Hijau bekerjasama dengan Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, dan Yayasan KEHATI melalui gerakan Biodiversity Warriors ingin melihat potensi yang dimiliki oleh ruang terbuka hijau di Jakarta melalui kegiatan monitoring keanekaragaman hayati Taman Kridaloka, Senayan-Jakarta Pusat.

Meskipun menjadi salah satu kota yang memiliki polusi cukup tinggi, ibukota negara ini seharusnya masih menyimpan beragam spesies unik dan menarik di ruang-ruang terbuka hijaunya. “Melalui kegiatan tersebut, diharapkan muncul apresiasi masyarakat terhadap ruang terbuka hijau, sehingga ada kesadaran untuk menjaga bahkan menambah luasannya serta masyarakat dapat mengenal dan melestarikan keanekaragaman hayati yang tersisa di Ibu Kota” kata Direktur Transformasi Hijau, Sarie Wahyuni, Sabtu 26 September 2015.

Keanekaragaman hayati yang masih tersimpan di Taman Kridaloka, Senayan-Jakarta Pusat dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk datang ke ruang terbuka hijau dan memanfaatkannya secara positif. Selain itu, hal tersebut juga bisa menjadi pengingat bagi pemerintah untuk dapat menambah luasan ruang terbuka hijau.
Sebagai kegiatan awal pada Sabtu 26 September 2015 di Taman Kridaloka, Senayan-Jakarta Pusat telah diadakan monitoring keanekaragaman hayati Taman Kridaloka, Senayan-Jakarta Pusat. Turut hadir siswa pecinta alam Sapta Pala SMA 7 Jakarta dan mahasiswa pecinta alam Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta. “Kami berharap monitoring ini dapat memberikan pemahaman pada generasi muda tentang keanekaragaman hayati di perkotaan dan mampu membekali mereka dengan kemampuan mengidentifkasi satwa liar yang tersisa di Jakarta kemudian dapat menyebarluaskan informasi tentang pentingnya ruang terbuka hijau dan keanekaragaman hayati di dalamnya,” ujar Adam Komara Sudrajat, ketua Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta dan juga salah satu Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI.
Seperti yang dilakukan oleh Transformasi Hijau yang bekerja sama dengan BBC “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta dan Biodiversity Warriors-Yayasan KEHATI pada Sabtu, 26 September 2015 pengamatan keanekaragaman hayati di Taman Kridaloka, Senayan- Jakarta Pusat. Salah satu keanekaragaman hayati yang diamati yaitu Burung Madu Kelapa (Anthreptes malacensis), masuk ke dalam Peraturan Republik Indonesia UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Burung merupakan bioindikator yang baik untuk mengetahui kawasan yang keanekaragaman hayatinya berlimpah, termasuk juga perubahan dan masalah lingkungan yang ada. Pada umumnya, suatu kawasan yang memiliki keanekaragaman jenis burung yang berlimpah, keanekaragaman hayati lainnya seperti flora dan satwa lainnya juga berlimpah, karena burung dapat menjadi bioindikator yang baik untuk mengetahui bagus atau tidaknya suatu kawasan. Selain itu, berkurangnya keanekaragaman jenis burung pada suatu kawasan, juga mengindikasikan adanya degradasi lingkungan pada kawasan tersebut.
Mari bersama-sama mengenal dan melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia.

AHMAD BAIHAQI
Divisi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Biological Bird Club “Ardea”
Fakultas Biologi Universitas Nasional
Jakarta

The following two tabs change content below.

About admin

Check Also

Mapala Muhammadiyah Pulihkan Trauma Korban Banjir Di Flores Timur

BP, Flores — Sejak Relawan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) dan CAMP STIE Muhammadiyah Jakarta …