Minggu , Maret 7 2021
Home/Opini/Ketika Anak Mengalami ‘Separation Anxiety’ di Awal Tahun Ajaran Baru

Ketika Anak Mengalami ‘Separation Anxiety’ di Awal Tahun Ajaran Baru

PENDIDIKAN
“Mommy.. mommy.. mau sama mommy.. mommy dimana.. huaaaaa.. hiks.. hiks..” celoteh Danish sedih diantara tangisannya yang semakin keras. Hari itu minggu pertamanya di sekolah baru. Mommy menemaninya masuk kelas sebentar lalu diam-diam meninggalkan Danish bersama guru dan teman-teman barunya. Dila Luthfi, seorang Psikolog Pendidikan Anak bicara; “Itu namanya separation anxiety, rasa cemas yang tercipta karena berpisah dengan orang terdekat. Memang kadang tidak tega ya meninggalkan anak dan membiarkannya menangis tersedu-sedu mencari kita, tapi itu adalah tahapan yang harus dilaluinya dalam proses pembiasaan, nantinya dia akan beradaptasi.”
Kalau ditelaah lagi, jauh sebelum hari sekolah dimulai orang tua sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk buah hati tersayang; membelikan sepatu favoritnya, tas kesayangannya dan botol minum pilihannya, tapi yang paling penting kadang terlupakan, yakni pengenalan dan adaptasi lingkungan sekolah.
“Sebenarnya mommy sudah bisa memulai orientasi pada anak sebelum kelas dimulai. Mommy bisa mengajak anak ikut serta pada program open house sekolah untuk ikut touring keliling sekolah supaya anak mengenal sekolah barunya. Juga pada Parents and Teacher Conference, anak bisa diajak serta karena pada saat itu guru kelas dan ruang kelas diperkenalkan, jadi anak sudah familiar dengan guru dan ruang kelas mereka ketika sekolah dimulai.” Ujar ms.Lena, salah seorang penddidik di sebuah sekolah nasional plus.
Tapi jangan khawatir, jika orientasi awal terlewatkan para guru dan assisten dapat melakukan beberapa behavior training atau pelatihan yang konsisten pada tingkah laku anak. Misalnya anak menangis mencari orangtuanya, mommy diperbolehkan melihat di balik kaca di luar kelas selama 5 menit, guru bisa menenangkan anak dgn membiarkan anak melihat ortu sambil membujuk: “Itu mommy di luar lagi nungguin Danish, sekarang Danish belajar dulu di kelas sama miss.” Itu untuk 5 menit pertama, selanjutnya mommy dipersilahkan untuk pergi dan mempercayakan anaknya pada guru kelas.
Kadang ada anak yang menjadi kalap, menangis sejadi-jadinya, berlari ke arah pintu dan mulai menggedor-gedor. Pada kondisi seperti itu yang bisa dilakukan guru adalah memastikan anak aman di tempatnya (dalam arti tidak terdapat sesuatu yang dapat menyakiti dirinya atau teman lainnya) dan jikalau memungkinkan guru memeluknya dan membujuknya hingga ia tenang.
Ada anak yang lantas mencari-cari alasan supaya ia bisa keluar kelas seperti berkata ia ingin pipis atau ingin makan. Jika permintaan masih bisa direalisasikan, guru bisa mengabulkannya supaya anak merasa keinginannya didengarkan dan diperhatikan oleh guru.
Pada saat anak merasa takut dan khawatir dengan lingkungan barunya, dalam arti: ruang kelas baru, guru baru, teman-teman yang belum dikenalnya, sudah menjadi tugas guru untuk menjadi ‘teman’ pertamanya yang terpercaya.

Oleh Therie. Pemerhati dunia anak dari Lembaga Pendidikan Bahasa ‘I Can Read’.

The following two tabs change content below.

admin

Latest posts by admin (see all)

About admin

Check Also

Tidak Hanya Partai Islam Yang Bisa Belajar Dari AKP Turki, Partainya Jokowi Juga Bisa

Oleh: Ardy Purnawan Sani. Anggota Dewan Kota Jakarta Pusat. Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP) atau …