Minggu , November 28 2021
Home / Info komunitas / Dari Puncak Latimojong Sapta Pala Peringati Harlah

Dari Puncak Latimojong Sapta Pala Peringati Harlah

BP_Jakarta——-Ada saja cara unik orang merayakan sesuatu, awal Agustus 2016 dua orang anggota Sapta Pala yang bernama Asep Sutisna dan Novisyu Arifin atau biasa disapa Opi, beranjak ke Sulawesi Selatan. Di sana dia sudah berjanji dengan salah satu alumni dari SMA 7 Jakarta. Jadi jika dirangkai dalam maksud dua dari tiga orang bertemu, Asep dan Opi, merayakan ulang tahun ke 23 Sapta Pala, yang juga memiliki satu tujuan merayakan kemerdekaan Indonesia.

Asep, Opi dan Lisa seorang wanita yang juga anggota dari Senat Mahasiswa Universitas Hasanuddin angkatan 2009 membidik Gunung Latimojong yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Sulawesi. Gunung ini memiliki ketinggian 3440 meter dari permukaan laut (mdpl). “Lisa memang hanya mensuport perjalanan saja, yang eksesusi kami berdua,” ujar Asep.

Gunung Latimojong terletak di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Pegunungan Latimojong memiliki 7 puncak yakni Buntu Sinaji (2.430 mdpl), Buntu Sikolong (2.754 mdpl), Buntu Rante Kambola (3.083 mdpl), Buntu Rante Mario (3.440 mdpl), Buntu Nenemori (3.097 mdpl), Buntu Bajaja (2.700 mdpl), Buntu Latimojong (2.800 mdpl). Puncak tertingginya bernama Buntu Rante Mario yang juga merupakan puncak tujuan dari mereka bertiga.

Perjalanan menuju Puncak Rante Mario memang melelahkan, Asep dan Opi menghabiskan empat hari untuk mendaki (9-12/8/16) dari 11 hari perjalanan mereka di Sulawesi (5-15/8/16). Rante Mario merupakan titik tertinggi dari Pegunungan Latimojong, di tempat ini pemandangan terbuka lebar, tampak wilayah Palopo, Tanah Toraja, Enrekang, Sidrap dan lautan yang jauh dipandang mata. Di puncak Rante Mario terdapat sebuah tugu Trianggulasi yang menandakan titik ketinggian dari puncak tersebut.

Asep menceritakan suka duka selama perjalanan, menurutnya, persiapan mendaki gunung ini harus ada mental, fisik serta finansial yang cukup. Opi terkesima melihat pemandangan yang pada beberapa point berbeda dengan ketika mendaki gunung di Jawa.

Asep menceritakan keaannya ketika melewati jalur ketiga yakni ketika menempuh jalur Angin-angin yang di mulai dari Dusun Angin-angin yang masih dalam wilayah administrasi Desa Latimojong. Pesona alam yang beragam menjadikan jalur ini diminati meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.

Ditambahkan Asep, “Dari Makassar kita bisa menggunakan jasa angkutan berupa mobil Kijang atau sejenisnya yang menuju ke arah Baraka, Kabupaten Enrekang. Menurut referensi pada bulan Juli 2010 harga terakhir sebesar Rp 60.000,. Dari Makassar ke Baraka memakan jarak tempuh ± 6 jam, kemudian kami turun di Pasar Baraka, yang kemudian melanjutkan lagi dengan menggunakan mobil Hard top atau Jeep, dengan harga 50.000 per kepala,” jelasnya. (FAI)

The following two tabs change content below.

About admin

Check Also

Gebyar Peringatan Maulid Nabi Dan Temu Kangen Kembali Diadakan Di Gang Buaya

BP, Jakarta — Di tengah ibukota, pesatnya pembangunan membuat wajah sebuah kampung bernama Karet Tengsin …