Sabtu , Desember 4 2021
Home / Jabodetabek / Mahasiswa Sensus Burung Air Di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta

Mahasiswa Sensus Burung Air Di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta

Foto Cangak Abu/ Ardea cinerea. Koleksi Ahmad Baihaqi

BP_Jakarta——-Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. Hutan Lindung Angke Kapuk mempunyai luas 44,76 Ha, belum banyak masyarakat yang mengetahui kawasan ini, karena memang areal kawasan ini dikelilingi perumahan mewah, maka tidak semua masyarakat tahu akan lokasi kawasan ini. Jika dilihat dari geografis kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga laut Jakarta tetap terjaga dan mencegah terjadinya banjir pasang surut air laut.

Ahmad Baihaqi Ketua BScC Indonesia menyampaikan kawasan ini memiliki banyak keragaman hayati yang sampai saat ini masih terjaga. Begitu banyaknya potensi yang dimiliki kawasan ini menjadikan lokasi ini sebagai tempat yang favorit bagi berbagai jenis burung-burung air yang masih tersisa di Jakarta.

Para pemuda yang tergabung dalam kelompok mahasiswa pengamat burung dari berbagai Universitas di Jakarta melakukan penghitungan burung air di kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Penghitungan atau sensus ini dalam rangka memperingati Asian Waterbird Census (AWC) 2017, pada Sabtu (21/01/2017) lalu.

“Tujuan dilakukannya kegiatan tersebut adalah sebagai proses pengumpulan data informasi tahunan mengenai populasi burung air di lahan basah (wetland). Keberadaan burung air di suatu kawasan juga dapat dijadikan sebagai indikasi lingkungan yang masih baik,” ujar Abay, sapaan akrab Ahmad Baihaqi yang juga merupakan mahasiswa Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional, Jakarta.

Dari hasil pengamatan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB, sebanyak 16 jenis burung air berhasil didata, diantaranya burung cangak abu (Ardea cinerea), pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecuk ular asia (Anhinga melanogaster), itik benjut (Anas gibberifrons) dan beberapa jenis burung air lainnya.
“Memotret keanekaragaman hayati yang masih tersisa di Jakarta sangat penting sebagai upaya konservasi keanekaragaman hayati melalui fotografi,” ungkap Willy Ekariyono, Perintis Indonesia Wildlife Photography.
Peserta AWC di Jakarta tahun ini diikuti oleh para pemuda yang peduli dengan lingkungan, diantaranya BScC Indonesia, Indonesia Wildlife Photography, Avifauna Photography of Indonesia, Kutu Aer, Transformasi Hijau dan Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional, Jakarta. Selain itu, hadir pula peserta dari kelompok studi dari berbagai Universitas, diantaranya Biological Bird Club (BBC) Ardea Fakultas Biologi Universitas Nasional, KPB Nycticorax Universitas Negeri Jakarta, KPB Nectarinia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Kelompok Studi Hidupan Liar (KSHL) Comata Universitas Indonesia.

AWC atau penghitungan burung air secara global merupakan program tahunan yang digelar pada minggu kedua dan ketiga di bulan Januari. Namun, di Indonesia penghitungan dan pendataan dapat dilakukan sepanjang bulan Januari yang hasilnya dicatat ke dalam lembar formulir dan hasilnya akan dilaporkan secara serentak dari berbagai dunia melalui lembaga International Waterbird Census. Kegiatan ini juga sebagai media kampanye kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kawasan lahan basah bagi kehidupan manusia ataupun makhluk hidup lainnya. (RWN)

The following two tabs change content below.

About admin

Check Also

Komunitas Anggur Tangerang Selatan Sambut HUT Pertama

BP, Tangerang Selatan — Ahad, (27/12/2020) Komunitas Anggur Tangerang Selatan (KAT) merayakan HUT perdana. Dalam …