Minggu , November 28 2021
Home / Nasional / Gerakan Menolak Kriminalisasi Aktivis Tolak Reklamasi Bali

Gerakan Menolak Kriminalisasi Aktivis Tolak Reklamasi Bali

BP_Denpasar——-Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) merespon laporan yang dilakukan Pos Perjuangan Rakyat (Pospera) terhadap Koordinator ForBALI I Wayan Gendo Suardana. Sikap ForBALI disampaikan dalam jumpa pers di Denpasar pada Selasa (16/8/2016).

Koordinator Tim Hukum ForBALI I Made Ariel Suardana mengatakan pelaporan terhadap Gendo oleh Pospera merupakan upaya untuk membungkam suara aktivis yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. “Meskipun pihak Pospera mengaku laporan itu tidak terkait dengan gerakan tolak reklamasi, namun kita tidak bisa begitu saja menafikan fakta bahwa para pelapor adalah termasuk bagian dari tim reklamasi Teluk Benoa,” kata Ariel kepada wartawan.

Sebelumnya, pada Senin kemarin Pospera melalui Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) telah melaporkan Gendo kepada polisi. Dalam laporan sesuai tanda bukti lapor Nomor TBL/584/VIII/2016/Bareskrim, DPP Pospera menuduh Gendo telah menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Pasal 16 UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Ras dan Etnis.

Laporan tersebut menyusul cuitan (tweet) Gendo melalui akun @gendovara pada 19 Juli 2016 yang berbunyi “Ah, muncul lagi akun2 bot asuhan pembina pos pemeras rakyat si napitufulus sok bela2 susi. Tunjukin muka jelekmu nyet.”

Gendo dalam jumpa pers sama mengatakan, twit tersebut harus dilihat dari konteks lebih luas dalam gerakan tolak reklamasi. Pada saat itu, Gendo sedang mengkritik kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang membiarkan izin lokasi terhadap PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Namun, kritik dengan tanda pagar #KecewaAmaSusi itu kemudian dijawab dengan akun-akun bot yang menggunakan tagar #BravoSusi.

Pernyataan Gendo dalam twit yang kemudian dipersoalkan tidaklah menyebut satu pun pihak ataupun etnis sebagaimana dituduhkan oleh Pospera. “Twit itu saya tujukan pada akun-akun bot. Tidak saya tujukan pada institusi ataupun perorangan. Saya tidak mengerti kenapa kemudian ada yang merasa tersinggung dengan twit no mention itu,” kata Gendo.

Ariel menambahkan, sebagai bagian dari aktivs 98, Gendo tidak punya niat untuk menjelek-jelekkan pihak tertentu termasuk Pospera. “Gendo tidak mungkin melakukan penghinaan. Pernyataan itu semata-mata hanya sebagai ekspresi menolak reklamasi tidak ada urusan dengan etnis apapun termasuk seperti yang dituduhkan,” katanya.

Wacana menyeret twit tersebut ke arah suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) sebagaimana dituduhkan Pospera, menurut Ariel, hanyalah pengalihan dari isu tolak reklamasi Teluk Benoa. ”Pelaporan ini adalah salah satu cara merusak barisan yang terus melakukan perlawanan tolak reklamasi. Isu SARA rawan digunakan sebagai metode untuk menaklukan gerakan tolak reklamasi,” Ariel menambahkan.

Terkait dengan proses hukumnya sendiri, Tim Hukum ForBALI mengatakan saat ini sudah ada 30 pengacara yang siap mendukung Gendo. Tim Hukum juga sudah mempersiapkan langkah-langkah pembelaan secara hukum. “Karena ini baru tahapan kriminalisasi awal, kami akan kawal. Kita akan uji, apakah kriminalisasi dalam kasus ini masih berlaku atau tidak. Kami mengundag advokat untuk sama-sama melakukan advokasi terhadap Gendo,” Ariel menambahkan.

Gendo sendiri menyatakan sudah siap dengan risiko yang harus dihadapi termasuk dalam perjuangan menolak reklamasi. “Saya dari awal menyadari bahwa berjuang banyak risikonya. Itu sisi yang berhimpitan. Mau diapain saja tidak soal. Yang bisa menghentikan saya ketika napas saya habis,” kata Gendo.

Terhadap kriminalisasi Gendo sendiri, berbagai pihak telah menyatakan dukungan pada Gendo. Pengguna Internet misalnya mulai memasang tagar dukungan terhadap Gendo, seperti #SayaAdalahGendo, #LawanKriminalisasiAktivisForBALI, dan #SayaTolakReklamasi. Tagar itu muncul di Twitter, Facebook, dan Instagram sejak kemarin malam.

Selain itu, para pengguna Internet juga memasang profil picture dengan tagar-tagar dukungan tersebut.

Tak hanya di dunia maya, dukungan terhadap Gendo juga datang dari basis-basis gerakan Tolak Reklamasi, terutama desa adat. Ketua LPM Kedonganan Ketut Raka Budana, misalnya mengatakan bahwa pelaporan terhadap Gendo justru semakin menguatkan gerakan Bali Tolak Reklamasi.

“Perjuangan kami tidak akan melemah hanya karena pelaporan terhadap Gendo. Justru sebaliknya, ini akan memperkuat perlawanan kita untuk melawan reklamasi,” kata Raka. (FAI)

The following two tabs change content below.

About admin

Check Also

Perwira Siswa Mancanegara Ikuti Kursus Bahasa Indonesia

*Tujuh Pasis Mancanegara Selesai Ikuti Kursus Bahasa Indonesia* BP, Jakarta — Sebanyak tujuh Perwira Siswa …