Rabu , November 14 2018
Home / Wawancara / Om Lay, Pengalaman Membuatnya Tangguh

Om Lay, Pengalaman Membuatnya Tangguh

Keterangan Foto: Om Lay (kanan).

BP_Jakarta——-Seorang pendaki asal Swiss hilang di Gunung Semeru, Jawa Timur. Hilangnya pendaki bernama Lionel Du Creaux itupun telah dilaporkan ke petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sampai Kamis sore (9/6/2016), pendaki 26 tahun itu belum ditemukan. Pencarian sepanjang hari Kamis (9/6) di sekitar Blank 75 dan arah ke Tawon Songo Kecamatan Pasru Jambe, Lumajang.

Lionel Du Creaux diperkirakan tersesat sejak Jum’at (3/6/2016). Hanya saja baru diketahui setelah teman pendakinya Alice Guinard, 25, asal Prancis ditemukan oleh pendaki lain pada Senin (6/6/2016).

Di balik cerita hilangnya pendaki Swiss tersebut memanggil seorang pria setengah baya untuk melakukan pencaharian. Nurdin Lessy menginjak usia lebih dari setengah abad ini bergabung dengan kedua kawannya asal Yogya dan Solo. Mereka tergabung dalam SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Se-Indonesia), yang pada akhirnya menginduk ke BASARNAS Lumajang.

Pria yang lebih sering disapa Om Lay ini berangkat dari Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta, meninggalkan pekerjaannya sebagai fasilitator training outbound di Jakarta.

Om Lay mengatakan, “Ada 2 SRU (Satuan Unit Rescue), sementara dalam satu SRU beranggotakan 8 orang,” jelas Om Lay. Mereka melakukan pencarian di area Gunung Jungle Lumajang dan sekitarnya. Usia yang tak terbilang muda ini tak kalah tenaganya dengan adik-adiknya di Stacia.

Ketika ditanyakan apa rahasia kuat mendaki gunung, Om Lay menjawab “Sebetulnya tidak ada rahasianya, yang pasti harus ada kemauan yang keras dan keingintahuan sebagai seorang pencinta alam.”

Pria kelahiran Ambon ini memang kerap mendaki gunung, tersebut Merapi, Sindoro, Semeru, semua gunung di Jawa, Lombok telah dijelajahinya. Pengalaman yang paling diingat adalah ketika Om Lay mendaki gunung Leuser di Aceh.

Om Lay mengingat bersama enam rekannya mendaki gunung tersebut untuk melakukan penelitian, membuat herbarium serta melakukan pengamatan burung. Diingatnya ketika tahun 1999 Aceh masih merupakan DOM (Daerah Oprasi Militer), tiga kendaraan di depannya pengalami pecah ban akibat berondongan peluru.

Pengalaman demi pengalaman membuat Om Lay tangguh, di Aceh Om Lay bersama tim juga melakukan pengabdian masyarakat, berbekal itu rasa empati Om Lay makin kuat untuk negeri. Tercatat beberapa bencana yang menerpa negeri ini Om Lay kerap hadir membantu.

Ketika ditanyakan suka duka melakukan pencarian orang hilang di Semeru, Om Lay mengatakan, “Sukanya banyak teman, tambah tahu jalur baru yang indah-indah,” kenangnya. Banyak terjal dan bonusnya (jalan rata). Dukanya, belum berhasil menemukan survivor,” tutup Om Lay.

Om Lay merupakan satu sosok yang menunjukkan gemblengan alam telah mendidik jiwa menjadi peka dan peduli. (FAI)

The following two tabs change content below.

About admin