Kamis , November 8 2018
Home / Jabodetabek / Cap(na)ture “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibukota”
Keanekaragaman Hayati Ibukota
Keanekaragaman Hayati Ibukota

Cap(na)ture “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibukota”

Keanekaragaman hayati di ibukota Jakarta yang penuh kebisingan dan polusi seolah terabaikan namun sekaligus menjadi hal yang sangat penting untuk diselamatkan. Sekelompok aktivis peduli lingkungan fokus menguak keanekaragaman hayati yang ada di ibukota. Mereka tergabung dalam kegiatan Cap(na)ture. Mereka peduli dan bekerja untuk memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa ternyata di Jakarta kita masih memiliki aneka satwa dan makhluk hidup lainnya yang menjadi kekayaan tak ternilai. Selain menjadi harta tak ternilai, kenekaragaman hayati menjadi indikator kualitas lingkungan tempat kita (manusia) hidup. Beberapa berita tentang aktivitas Cap(na)ture pernah dimuat dalam media Berita Persatuan (BP). Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan maka kami kembali menyajikan informasi berharga yang disusun oleh Ahmad Baihaqi, penggiat kegiatan Geledah Jakarta. Seluruh agenda Geledah Jakarta akan kami sajikan di BP. Semoga bermanfaat dalam perjuangan menjaga kelestarian lingkungan hidup. (Redaksi).

JAKARTA – Luasan ruang terbuka hijau di Jakarta masih jauh dari yang disyaratkan oleh Undang-Undang. Oleh karena itu, perlu terus digali potensinya agar muncul kesadaran pemerintah dan masyarakat untuk terus menambah luasannya.

Saat ini Provinsi DKI Jakarta setidaknya hanya memiliki kurang lebih 9% ruang terbuka hijau dari total luas wilayahnya. Padahal Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang jelas menunjukkan bahwa sebuah kota harus memiliki ruang terbuka hijau sebanyak 30% dari total luas wilayahnya. Luasan sebesar 30% dari total wilayah itu adalah syarat minimum untuk menjamin keseimbangan ekosistem sebuah kota. Termasuk di dalamnya keseimbangan sistem hidrologi yang berkaitan erat dengan banjir dan peningkatan ketersediaan udara bersih. Melihat kondisi tersebut, Jakarta sebenarnya jauh berada pada posisi ideal.

Oleh karena itu, Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) melalui gerakan anak mudanya Biodiversity Warriors bekerjasama dengan Komunitas Peta Hijau Jakarta, Fakultas Biologi Universitas Nasional, dan beberapa organisasi yang lain ingin melihat kembali potensi yang dimiliki oleh ruang terbuka hijau di Jakarta melalui kegiatan Cap (na) ture. Kegiatan ini adalah upaya memperbaharui peta hijau di Jakarta yang telah dibuat sebelumnya beberapa tahun yang lalu. Melalui peta tersebut akan digali potensi keanekaragaman hayatinya. Meskipun menjadi salah satu kota yang memiliki polusi cukup tinggi, ibukota negara ini seharusnya masih menyimpan beragam spesies unik dan menarik di ruang-ruang terbuka hijaunya. “Melalui kegiatan tersebut, diharapkan muncul apresiasi masyarakat terhadap ruang terbuka hijau, sehingga ada kesadaran untuk menjaga bahkan menambah luasannya,” kata Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya, Yayasan KEHATI, Sinaryatie Saloh, Sabtu 28 Maret 2015.

Keanekaragaman hayati yang masih tersimpan di ruang terbuka hijau Jakarta dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk datang ke ruang terbuka hijau dan memanfaatkannya secara positif. Selain itu, hal tersebut juga bisa menjadi pengingat bagi pemerintah untuk dapat menambah luasan ruang terbuka hijau.

Sebagai kegiatan awal Cap (na) ture, pada Sabtu 28 Maret 2015 di Universitas Nasional telah diadakan workshop “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota”. Dalam workshop tersebut para peserta akan dikenalkan dengan keanekaragaman hayati di wilayah perkotaan beserta fungsinya, dilatih menulis dan fotografi sebagai modal untuk ikut berpartisipasi dalam membuat peta hijau Jakarta, dan dikenalkan dengan komunitas-komunitas yang kegiatan erat dengan pelestarian keanekaragaman hayati di Jakarta. “Kami berharap pelatihan ini dapat memberikan pemahaman pada generasi muda tentang keanekaragaman hayati di perkotaan dan mampu membekali mereka dengan kemampuan dasar menulis dan fotografi untuk menyebarluaskan informasi tentang pentingnya ruang terbuka hijau dan keanekaragaman hayati di dalamnya,” ujar Ahmad Baihaqi, salah satu Biodiversity Warriors dan juga merupakan mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional yang menggagas diselenggarakannya Cap(na)ture ini. Aktivitas utama dari Biodiversity Warriors adalah untuk menyebarluaskan informasi tentang keunikan, manfaat, atau fungsi dari keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

Sementara itu, Ady Kristanto dari Komunitas Peta Hijau Jakarta mengatakan bahwa mengumpulkan data potensi keanekaragaman hayati yang melibatkan masyarakat umum (citizen scientist) sudah dilakukan di beberapa negara di Eropa dan Amerika. Salah satu bentuk pendataan tersebut dalah sistem peta hijau. “Sistem tersebut adalah sebuah bentuk pemetaan potensi suatu wilayah yang melibatkan masyarakat ke dalam suatu peta dengan simbol-simbol yang menampilkan keterkaitan antara masyarakat dan lingkungannya,” katanya. Tujuan peta ini adalah untuk menciptakan cara pandang baru bagi warga kota untuk menikmati kotanya, menjadi panduan wisatawan untuk menikmati potensi alam sebuah kota, membantu warga untuk menjelajahi dan mengenali suatu kota, serta membangkitkan kesadaran masyarakat untuk dapat ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Pada 2010, kami sudah pernah membuat peta hijau keanekaragaman hayati Jakarta. Akan tetapi setelah lima tahun, melalui kerjasama dengan Biodiversity Warriors dan beberapa organisasi lain, kami ingin melihat kembali apakah keanekaragam hayati di Jakarta bertambah atau justru berkurang,” ujar Ady.

Cap(na)ture “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota” dimulai pada Bulan April, lebih dari 80 titik Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang akan diamati. Pengamatan keanekaragaman hayati di RTH Jakarta dibagi menjadi lima wilayah, yaitu Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara. Sampai saat ini kurang lebih sudah 24 titik RTH yang diamati. Keanekaragaman Hayati yang diamati meliputi burung, capung, kupu-kupu, herpetofauna (reptil dan amphibi), jamur dan vegetasi yang memiliki nilai unik. Kegiatan ini terbuka untuk umum, baik perorangan maupun kelompok yang ingin belajar tentang keanekaragamana hayati Ibukota.

Seperti yang dilakukan oleh Biodiversity Warriors-Yayasan KEHATI pada Selasa, 30 Juni 2015 pengamatan satwa liar malam di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat. Ketika itu, turut berpartisipasi juga dari komunitas lain seperti Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, “Lutung” Forum Studi Primata Fakultas Biiologi Universitas Nasional, Indonesia Wildlife Photography, Kelompok Pengamat Kelelawar UNJ dan FFI-IP. Selain pengamatan, juga dilakukan hunting foto satwa liar malam di Hutan Kota Srengseng. Hasil pengamatan didapatkan 7 jenis mamalia, 3 jenis amphibi, dan 7 jenis reptil.

Keanekaragaman hayati seperti flora dan faunapada suatu kawasandapat menjadi bioindikator yang baik untuk mengetahui bagus atau tidaknya suatu kawasan. Selain itu, berkurangnya keanekaragaman hayati pada suatu kawasan, juga mengindikasikan adanya degradasi lingkungan pada kawasan tersebut.

Pihak kerjasama dalam kegiatan Cap(na)ture:

1. Biodiversity Warriors – Yayasan KEHATI adalah gerakan anak muda yang mempopulerkan keanekaragaman hayati Indonesia melalui dunia maya. Program ini dirancang secara khusus untuk anak muda dengan menggunakan website sebagai basis kegiatannya. Melalui website ini, anak muda di seluruh Indonesia diharapkan dapat bertukar informasi tentang keanekaragaman hayati Indonesia. Informasi yang disebarluaskan dapat memuat berbagai sisi informasi berguna, baik dari sisi keunikan, statusnya (langka atau dilindungi) hingga manfaatnya bagi kehidupan.

2. Fakultas Biologi Universitas Nasional adalah fakultas biologi swasta tertua di Indonesia yang bergerak dalam pengembangan biolgi konservasi, biologi industri, dan biomedik serta peduli kepada kepentingan dan kebutuhan masyarakat

3. Komunitas Peta Hijau Jakarta adalah komunitas pemetaan di Jakarta yang menggunakan Green Map System (sistem peta hijau) dan berupaya mewadahi berbagai inisiatif lokal menuju terciptanya kehidupan yang sehat dan berkelanjutan bagi manusia dan lingkungan di ibukota Jakarta.

4. Biological Science Club (BScC) adalah komunitas yang bergerak dalam pengembangan sains dan pendidikan lingkungan yang menitikberatkan kepada pengembangan pemahaman masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya (citizen scientist)

5. Jakarta Birdwatcher Society adalah forum bertukar informasi yang mewadahi para pengamat burung di perguruan tinggi, kelompok pengamat burung amatir, serta pengamat burung perorangan yang berada di wilayah DKI Jakarta.

6. Indonesia Wildlife Photography adalah forum para fotografer yang fokus dalam memotret kehidupan liar (wildlife) di Indonesia terbentuk pada Juli 2010 dengan tujuan utamanya adalah konservasi flora dan fauna melalui foto yang dikemas sebagai media edukasi. Aktivitas IWP seperti hunting foto bareng di Ruang Terbuka Hijau DKI Jakarta setiap akhir pekan.

AHMAD BAIHAQI
Mahasiswa Fakultas Biologi
Universitas Nasional
Jakarta

The following two tabs change content below.

About admin

Check Also

WARGA TERDAMPAK JALAN TOL CIJAGO  TOLAK BESARAN GANTI KERUGIAN

Warga Terdampak Jalan Tol Cijago Tolak Besaran Ganti Kerugian

Depok, 14/08/18. Forum Tol Cijago Tanah Baru mengeluarkan press release nya. Pasalnya Proyek TOL CIJAGO …