Rabu , November 14 2018
Home / Perguruan Tinggi / Biologi UNAS Gelar Seminar Nasional “Biodiversitas untuk Kehidupan”

Biologi UNAS Gelar Seminar Nasional “Biodiversitas untuk Kehidupan”

BP, Jakarta — Dalam rangka memeringati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 April, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat, Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam, Fakultas Biologi Universitas Nasional (UNAS) serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNAS menyelenggarakan Seminar Nasional Biodiversitas untuk Kehidupan bertajuk “Kondisi Ekologis, Potensi, dan Pengembangan Biodiversitas Indonesia untuk Keseimbangan Kehidupan di Bumi”, Sabtu, (21/4/2018).

Ketua Pelaksana Imran S.L. Tobing menjelaskan bahwa pemanfaatan biodiversitas Indonesia umumnya masih terbatas pada pemanfaatan langsung dengan eksploitasi dari alam, bahkan berbagai jenis yang sudah dilindungi masih terus dieksploitasi secara ilegal dan diperdagangkan secara gelap (illegal trading).

“Seminar ini bertujuan untuk menciptakan sarana diseminasi hasil riset para peneliti, dosen, dan mahasiswa, baik dari institusi penelitian maupun dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia, serta menghimpun hasil-hasil riset tentang biodiversitas Indonesia untuk mengungkap potensi dan permasalahan biodiversitas Indonesia” ujar Imran yang juga merupakan Ketua Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam UNAS.

Lebih lanjut, Imran, mengatakan pemanfaatan yang belum sepenuhnya menerapkan konsep berkelanjutan, pemanfaatan yang kurang terkontrol, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan yang telah digariskan, telah mengakibatkan gradasi biodiversitas, meningkatnya keterancaman biodiversitas Indonesia, dan menimbulkan berbagai krisis ekologi yang sangat merugikan bumi Indonesia. Model pemanfaatan yang tidak terpola, pemanfaatan yang hanya memberatkan kepentingan ekonomi kekinian saja telah menjadikan Indonesia sebagai biodiversity hotspot country, negara dengan biodiversitas paling terancam di dunia.

Trend pemanfaatan biodiversitas selama ini masih terbatas pada beberapa jenis saja mengikuti permintaan pasar, padahal biodiversitas Indonesia sangat kaya dengan potensi, yang bahkan masih belum terungkap. Riset terhadap kekayaan biodiversitas Indonesia sangat perlu digalakkan untuk mengungkap potensi biodiversitas Indonesia.

Pengembangan mutlak harus segera dilakukan agar biodiversitas Indonesia mempunyai nilai tambah sehingga lebih berdaya guna bagi kehidupan, sekaligus dapat menjaga keseimbangan ekosistem bumi.

Hasil-hasil penelitian berupa makalah yang dipresentasikan direncanakan akan diterbitkan dalam suatu prosiding seminar dan diharapkan menjadi bagian dari sumbangsih para peneliti dalam upaya mengungkap berbagai alternatif model pemanfaatan biodiversitas Indonesia untuk menjaga keseimbangan kehidupan di bumi.

Sebagai informasi tambahan, Seminar Nasional Biodiversitas untuk Kehidupan diikuti hampir 100 pemakalah yang berasal dari beberapa provinsi di Indonesia, di antaranya adalah Jakarta, Jawa Barat, Banten, Lampung, Riau, Jawa Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Barat.

Turut hadir sebagai Keynote Speaker yang ahli pada bidangnya, yaitu Prof. Dr. Ernawati Sinaga, MS.Apt. (Universitas Nasional, Jakarta) dengan topik Etnofarmakologi tumbuhan Zingiberaceae di Indonesia dan Prof. Dr. Sutyarso, M.Si. (Universitas Lampung, Bandarlampung) dengan topik Biodiversitas sebagai anti-aging dan afrodisiak.

Selain itu, Seminar Nasional ini juga dihadiri oleh Invited Speaker, yaitu Dr. Dolly Priatna, M.Si (Head of Landscape Conservation Asia Pulp & Paper Group) dengan topik Peran Sektor Swasta Dalam Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca untuk Keseimbangan Kehidupan di Bumi.

Peluncuran Buku

Sebagai salah satu rangkaian acara Seminar Nasional, juga dilakukan peluncuran buku berjudul “Upaya Menuju Green Hospital Melalui Program Keanekaragaman Hayati di Lingkungan Rumah Sakit Kanker Dharmais”. Buku ini merupakan hasil kerja sama antara Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, BScC Indonesia Prodi Magister Biologi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Nasional, dan Fakultas Biologi Universitas Nasional.

Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya Yayasan KEHATI Fardila Astari menyampaikan bahwa melalui pembinaan yang terus-menerus, Biodiversity Warriors (BW) telah berhasil meningkatkan kualitas anggotanya dalam melaksanakan aktivitas mereka, sehingga muncul kepercayaan dari berbagai pihak bekerja sama mengenalkan keanekaragaman hayati Indonesia. Melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD), BW mendapatkan kesempatan untuk melakukan pengamatan keanekaragaman hayati di lingkungan RSKD. Hasil pengamatan tersebut kemudian dirangkum dan disusun menjadi buku.

“Buku yang disusun oleh BW ini merupakan wujud kepercayaan suatu institusi seperti RSKD terhadap generasi muda. Selain itu, melalui buku yang berisi tentang keanekaragaman jenis jamur, flora, dan satwa liar perkotaan di sekitar RSKD ini menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit pun dapat menjadi habitat bagi satwa perkotaan, sehingga dapat menjadi laboratorium alam untuk mengenali keanekaragaman hayati” tandas Fardila.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional Dr. Tatang Mitra Setia menyampaikan bahwa sebuah konsep ekologi jika diterapkan dalam suatu pengelolaan akan menjadikan interaksi antara sesama makhluk hidup dan makhluk hidup dengan lingkungannya. Penggunaan label green pada suatu pengelolaan bertujuan agar fungsi ekologis dapat berjalan dan terjadi interaksi antar kehidupan dan antar kehidupan dengan lingkungan menjadi seimbang.

“Green Hospital merupakan sebuah konsep rumah sakit yang didesain dengan memberdayakan potensi alam sebagai sumber daya utama sehingga ramah terhadap lingkungan. Selain itu, juga dapat lebih menghemat pengeluaran energi serta menekan pencemaran lingkungan. Oleh sebab itu, keberadaan rumah sakit beserta kawasan sekitarnya dengan hijauan pepohonan berfungsi juga sebagai kawasan ruang terbuka hijau (RTH). Kawasan RTH akan memiliki nilai yang tinggi jika diimbangi juga dengan keberadaan keanekaragaman hayati lainnya, misalnya burung, capung dan kupu-kupu” ujar Tatang yang juga merupakan Deputi bidang IPATEK LPPM UNAS.

Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais Prof.dr. Abdul Kadir, PhD, Sp.THT.KL (K), MARS menjelaskan bahwa rumah sakit ramah lingkungan atau yang lebih dikenal dengan istilah Green Hospital sebagai Sustainable Hospital, saat ini sudah menjadi kebutuhan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Salah satu indikator pengelolaan atau kualitas lingkungan di rumah sakit adalah adanya keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut dengan keberagaman dan kekayaan spesies atau keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya.

(RWN)

The following two tabs change content below.

About admin

Check Also

Ahmad Baihaqi Juara Lomba Cerpen Tingkat Nasional Global Tiger Day 2017

BP, Jakarta — Dalam rangka Hari Harimau Sedunia, lomba menulis cerpen tingkat nasional sebagai perayaan …